Di sebuah kelurahan padat di Jakarta, tawuran antarkampung terjadi hampir setiap bulan selama bertahun-tahun. Pesertanya silih berganti: remaja yang dulu ikut tawuran kini sudah menikah dan pindah, tetapi adik-adik mereka meneruskan. Polisi menangkap, sekolah mengeluarkan, tokoh masyarakat mendamaikan, lalu tawuran muncul lagi. Kalau sebabnya ada pada diri individu, seperti yang diyakini Lombroso, mengapa polanya menetap di tempat yang sama walaupun orangnya berganti?
Pertanyaan semacam itu membawa kriminologi keluar dari laboratorium dan penjara, masuk ke jalan, kampung, sekolah, dan pasar kerja. Sejak awal abad ke-20, para sosiolog berpendapat bahwa kejahatan harus dijelaskan dengan struktur dan proses sosial: bagaimana lingkungan diorganisasi, bagaimana peluang dibagi, dengan siapa orang bergaul, seberapa kuat ikatannya pada masyarakat, dan bagaimana masyarakat bereaksi terhadap penyimpangan.
Bab ini membahas teori-teori sosiologis utama dan kriminologi kritis. Teori-teori ini menjadi alat pokok untuk memahami kenakalan remaja di Bab 6. Saran membaca: jangan menghafal nama teori, tetapi pahami pertanyaan yang diajukan masing-masing teori. Di akhir bab ada tabel untuk membantu memilih teori yang tepat bagi suatu kasus.
Mazhab Chicago dan disorganisasi sosial
Pada awal abad ke-20, Chicago adalah kota yang tumbuh luar biasa cepat. Gelombang pendatang dari Eropa dan dari wilayah selatan Amerika memadati kota. Para sosiolog di University of Chicago menjadikan kota itu laboratorium hidup. Robert Park dan Ernest Burgess memetakan kota sebagai lingkaran-lingkaran konsentris: pusat bisnis di tengah, dikelilingi zona transisi tempat pendatang baru dan warga miskin tinggal, lalu zona permukiman pekerja, permukiman kelas menengah, dan pinggiran kota.
Clifford Shaw dan Henry McKay memetakan alamat ribuan anak yang berurusan dengan pengadilan anak selama beberapa dekade. Temuan mereka mengubah cara orang melihat kejahatan. Angka kenakalan paling tinggi selalu berada di zona transisi dan menurun ke arah pinggiran kota. Yang lebih penting, angka itu tetap tinggi di zona transisi walaupun kelompok etnis yang menghuninya berganti dari Jerman ke Irlandia, Polandia, Italia, lalu Afrika-Amerika. Ketika satu kelompok pindah ke zona yang lebih baik, angka kenakalan kelompok itu turun [1Buku teksJuvenile Delinquency and Urban Areas].
Kesimpulan mereka: sebabnya bukan sifat bawaan kelompok, melainkan disorganisasi sosial wilayah. Wilayah dengan penghuni yang sering berpindah, kemiskinan, dan keragaman tanpa ikatan bersama kehilangan kemampuan untuk mengawasi anak-anaknya dan menegakkan nilai bersama. Di wilayah seperti itu, nilai-nilai kenakalan bahkan diwariskan dari remaja yang lebih tua ke yang lebih muda, mirip tradisi.
Gagasan ini dihidupkan kembali pada akhir abad ke-20 oleh Robert Sampson dan rekan-rekannya melalui konsep efikasi kolektif, yaitu kohesi sosial antarwarga yang disertai kesediaan untuk bertindak bersama, misalnya menegur remaja yang membolos atau mencoret-coret tembok. Penelitian mereka di 343 lingkungan di Chicago menemukan bahwa efikasi kolektif yang tinggi berkaitan dengan kekerasan yang lebih rendah, bahkan setelah memperhitungkan kemiskinan [2Jurnal ilmiahNeighborhoods and Violent Crime: A Multilevel Study of Collective Efficacy]. Kembali ke contoh pembuka, tawuran yang menetap di satu kelurahan lebih masuk akal dijelaskan dengan lemahnya efikasi kolektif dan tradisi permusuhan antarkampung daripada dengan sifat pribadi para pesertanya.
Anomie dan teori ketegangan
Durkheim: anomie
Émile Durkheim memakai istilah anomie untuk keadaan ketika norma melemah atau tidak lagi jelas, biasanya pada masa perubahan sosial yang cepat. Dalam keadaan itu, keinginan manusia tidak lagi dibatasi oleh aturan moral bersama, sehingga orang mudah merasa frustrasi dan berperilaku menyimpang. Bagi Durkheim, krisis ekonomi maupun lonjakan kemakmuran yang tiba-tiba sama-sama dapat menimbulkan anomie [3Buku teksLes règles de la méthode sociologique].
Merton: ketegangan antara tujuan dan sarana
Robert K. Merton mengolah konsep itu menjadi teori yang sangat berpengaruh. Dalam artikel "Social Structure and Anomie" (1938), Merton berpendapat bahwa setiap masyarakat menetapkan tujuan budaya (misalnya sukses materi) dan sarana yang sah untuk mencapainya (pendidikan, kerja keras). Masalah timbul ketika masyarakat menekankan tujuan secara berlebihan, sementara akses ke sarana yang sah tidak merata. Kelompok yang terhalang aksesnya mengalami ketegangan dan beradaptasi dengan berbagai cara [4Jurnal ilmiahSocial Structure and Anomie].
| Tipe adaptasi | Tujuan budaya | Sarana yang sah | Contoh |
|---|---|---|---|
| Konformitas | Diterima | Diterima | Siswa belajar keras untuk masuk perguruan tinggi negeri |
| Inovasi | Diterima | Ditolak | Remaja ingin ponsel mahal lalu menipu lewat akun jual beli palsu |
| Ritualisme | Ditolak | Diterima | Pegawai yang menjalankan prosedur tanpa peduli hasil |
| Retreatisme | Ditolak | Ditolak | Pecandu narkotika yang mundur dari kehidupan sosial |
| Pemberontakan | Diganti | Diganti | Kelompok yang ingin mengganti tatanan dengan tatanan baru |
Teori Merton menjelaskan mengapa kejahatan harta benda lebih banyak di kalangan yang terhalang aksesnya. Tetapi ia tidak menjelaskan mengapa sebagian besar orang miskin tetap patuh hukum, atau mengapa orang kaya melakukan korupsi. Ia juga kurang menjelaskan kejahatan yang tidak bertujuan materi, seperti vandalisme atau klitih.
Teori Merton terasa makin relevan di era media sosial. Dulu, remaja di sebuah desa membandingkan dirinya dengan tetangga. Kini ia membandingkan dirinya setiap hari dengan gaya hidup selebritas dan pemengaruh yang memamerkan mobil, gawai, dan liburan mewah. Tujuan budaya menjadi makin tinggi dan makin seragam, sedangkan sarana sah untuk mencapainya tetap timpang. Ketegangan semacam ini disebut deprivasi relatif: orang merasa kekurangan bukan karena miskin secara mutlak, tetapi karena membandingkan diri dengan orang lain. Iklan judi daring dan investasi bodong memanfaatkan ketegangan itu dengan menjanjikan jalan pintas menuju sukses. Tidak mengherankan bila penelitian tentang judi daring remaja menemukan desakan kebutuhan sehari-hari dan keinginan mendapat uang cepat sebagai salah satu pendorongnya [5Jurnal ilmiahAnalisis Kriminologis terhadap Kejahatan Judi Online pada Remaja di Lampung Utara].
Agnew: teori ketegangan umum
Robert Agnew memperluas teori ini pada 1992. Menurut teori ketegangan umum (general strain theory), ketegangan tidak hanya berasal dari gagalnya mencapai tujuan materi. Ada tiga sumber: kegagalan mencapai tujuan yang bernilai, hilangnya sesuatu yang bernilai (misalnya orang tua bercerai atau putus pacaran), dan hadirnya rangsangan negatif (misalnya dirundung, dianiaya di rumah, atau dihina di depan umum). Ketegangan menimbulkan emosi negatif, terutama marah, dan kenakalan menjadi salah satu cara mengatasinya [6Jurnal ilmiahFoundation for a General Strain Theory of Crime and Delinquency]. Teori ini sangat cocok untuk remaja, karena menjelaskan mengapa korban perundungan kadang berubah menjadi pelaku kekerasan.
Apa beda teori anomie Merton dan teori ketegangan umum Agnew?
Jawab dalam kepala atau tulis di kertas. Setelah itu baru buka jawabannya.
Merton menjelaskan ketegangan dari ketidakseimbangan antara tujuan budaya (terutama sukses materi) dan akses ke sarana yang sah, lalu merumuskan lima tipe adaptasi. Agnew memperluas sumber ketegangan menjadi tiga: gagal mencapai tujuan bernilai, kehilangan hal yang bernilai, dan hadirnya rangsangan negatif seperti kekerasan atau perundungan. Agnew juga menekankan peran emosi negatif, terutama marah, sebagai jembatan antara ketegangan dan kenakalan.
Teori belajar: asosiasi diferensial dan netralisasi
Sutherland: kejahatan dipelajari
Edwin Sutherland menolak anggapan bahwa kejahatan diwariskan atau semata akibat kemiskinan. Menurutnya, perilaku jahat dipelajari, sama seperti perilaku lain. Teori asosiasi diferensial dirumuskan dalam sembilan proposisi pada edisi 1947 Principles of Criminology [7Buku teksPrinciples of Criminology (4th ed.)]. Intinya:
- Perilaku jahat dipelajari melalui interaksi dan komunikasi dengan orang lain.
- Bagian terpenting proses belajar terjadi dalam kelompok pribadi yang akrab: keluarga, teman dekat, geng.
- Yang dipelajari meliputi teknik melakukan kejahatan dan juga motif, dorongan, rasionalisasi, dan sikap.
- Arah motif dipelajari dari definisi tentang hukum, apakah menguntungkan atau merugikan untuk dilanggar.
- Seseorang menjadi pelanggar karena definisi yang mendukung pelanggaran lebih kuat daripada definisi yang menentangnya.
- Asosiasi itu berbeda dalam frekuensi, lamanya, prioritas (seberapa dini), dan intensitasnya.
Romli Atmasasmita menilai kekuatan teori ini terletak pada kemampuannya menjelaskan kejahatan di semua kelas sosial, termasuk kejahatan kerah putih yang dipelajari di lingkungan kantor [8Buku teksTeori dan Kapita Selekta Kriminologi]. Kelemahannya, sulit diukur, dan tidak menjelaskan siapa yang pertama kali mengajarkan kejahatan atau mengapa orang memilih bergaul dengan kelompok tertentu.
Di era digital, "kelompok akrab" tidak lagi terbatas pada orang yang bertemu muka. Grup percakapan, server gim daring, dan komunitas di media sosial bisa menjadi tempat belajar teknik dan pembenaran. Penelitian tentang judi daring remaja di Lampung Utara, misalnya, menemukan bahwa remaja mulai berjudi melalui interaksi dan komunikasi dengan teman yang sudah lebih dulu bermain [5Jurnal ilmiahAnalisis Kriminologis terhadap Kejahatan Judi Online pada Remaja di Lampung Utara].
Sykes dan Matza: teknik netralisasi
Gresham Sykes dan David Matza menambahkan satu pengamatan penting. Remaja nakal ternyata tidak sepenuhnya menolak nilai masyarakat; banyak di antaranya merasa bersalah, menghormati orang tua dan guru, dan membedakan siapa yang "boleh" dan "tidak boleh" menjadi sasaran. Untuk melanggar tanpa merasa bersalah, mereka memakai teknik netralisasi [9Jurnal ilmiahTechniques of Neutralization: A Theory of Delinquency].
| Teknik | Ungkapan khas | Contoh kenakalan remaja |
|---|---|---|
| Menyangkal tanggung jawab | Bukan salahku | Aku cuma ikut-ikutan, yang ngajak senior. |
| Menyangkal kerugian | Tidak ada yang rugi | Cuma bercanda, videonya juga cuma di grup. |
| Menyangkal korban | Dia pantas mendapatkannya | Salah sendiri dia sok jago di sekolah. |
| Mengutuk yang mengutuk | Mereka juga munafik | Guru dan polisi juga sering curang. |
| Menyerukan kesetiaan lebih tinggi | Demi kelompok | Demi nama sekolah, kami harus balas. |
Teori subkultur
Teori subkultur menjelaskan mengapa kenakalan sering dilakukan berkelompok dan memiliki nilai sendiri. Albert Cohen, dalam Delinquent Boys (1955), mengamati bahwa geng remaja kelas bawah sering melakukan kenakalan yang tidak menghasilkan keuntungan, seperti merusak, mencuri barang yang lalu dibuang, atau berkelahi tanpa alasan. Menurut Cohen, anak-anak itu dinilai oleh sekolah dengan "tongkat ukur kelas menengah" (sopan, rajin, menunda kesenangan) yang sulit mereka penuhi. Akibatnya timbul frustrasi status. Sebagai jawaban, mereka membentuk subkultur yang membalik nilai-nilai itu: yang dianggap buruk oleh sekolah justru dihormati dalam kelompok [10Buku teksDelinquent Boys: The Culture of the Gang].
Richard Cloward dan Lloyd Ohlin memadukan teori Merton dan Sutherland. Mereka menambahkan bahwa bukan hanya sarana sah yang tidak merata; sarana tidak sah pun tidak tersedia bagi semua orang. Bentuk subkultur bergantung pada kesempatan tidak sah yang tersedia di lingkungan [11Buku teksDelinquency and Opportunity: A Theory of Delinquent Gangs]:
- Subkultur kriminal tumbuh di lingkungan yang punya jaringan kejahatan dewasa yang mapan, tempat remaja "magang" menjadi pencuri atau penadah.
- Subkultur konflik tumbuh di lingkungan yang tidak teratur, tanpa jaringan kriminal yang stabil; remaja mencari status lewat kekerasan dan perkelahian antarkelompok.
- Subkultur retreatis dihuni mereka yang gagal di jalur sah maupun tidak sah, lalu mundur ke narkotika atau alkohol.
Harahap dan Sulhin membaca geng klitih di Yogyakarta sebagai subkultur menyimpang yang menjadikan kekerasan bagian dari budaya kelompok, lengkap dengan ritual, identitas, dan makna tersendiri. Karena itu menurut mereka pengendaliannya tidak cukup represif, tetapi perlu pendekatan nonpenal berbasis budaya dan komunitas, misalnya pelatihan kerja dan resosialisasi [12Jurnal ilmiahPengendalian Kejahatan pada Sub-Kebudayaan Gang Klitih (dalam Paradigma Kriminologi Budaya)].
Teori kontrol: mengapa orang tidak melanggar
Teori-teori sebelumnya bertanya: mengapa orang melakukan kejahatan? Teori kontrol membalik pertanyaannya: mengapa kebanyakan orang tidak melakukan kejahatan, padahal godaannya ada? Jawabannya, karena ada sesuatu yang menahan mereka.
Hirschi: ikatan sosial
Travis Hirschi, dalam Causes of Delinquency (1969), berpendapat bahwa kenakalan terjadi ketika ikatan sosial seseorang dengan masyarakat melemah atau putus. Ikatan itu terdiri atas empat unsur [13Buku teksCauses of Delinquency].
- Kelekatan (attachment): hubungan emosional dengan orang tua, guru, dan teman. Anak yang peduli pada pendapat orang tuanya akan berpikir dua kali sebelum melanggar.
- Komitmen (commitment): investasi pada jalur konvensional, seperti pendidikan dan cita-cita. Makin besar investasinya, makin besar ruginya bila melanggar.
- Keterlibatan (involvement): kesibukan dalam kegiatan konvensional seperti ekstrakurikuler, olahraga, atau organisasi pemuda, sehingga waktu untuk kenakalan berkurang.
- Keyakinan (belief): penerimaan terhadap nilai dan aturan masyarakat.
Hirschi menguji teorinya dengan survei laporan diri terhadap lebih dari empat ribu remaja di California dan menemukan bahwa kelekatan pada orang tua dan sekolah berkaitan kuat dengan rendahnya kenakalan. Teori ini kini paling sering dipakai dalam penelitian kenakalan remaja di Indonesia, termasuk untuk tawuran pelajar dan judi daring.
Gottfredson dan Hirschi: kontrol diri
Dua dekade kemudian, Hirschi bersama Michael Gottfredson mengajukan teori umum kejahatan. Menurut mereka, sebab umum kejahatan adalah rendahnya kontrol diri: kecenderungan impulsif, mencari kesenangan segera, menyukai risiko, tidak tahan frustrasi, dan kurang peka terhadap penderitaan orang lain. Kontrol diri terbentuk pada masa kanak-kanak melalui pengasuhan yang memantau, mengenali, dan mengoreksi perilaku anak. Bila tidak terbentuk sampai usia sekitar delapan tahun, kontrol diri cenderung stabil rendah sepanjang hidup [14Buku teksA General Theory of Crime].
- Pertanyaan: mengapa orang melanggar?
- Kejahatan dipelajari dari kelompok akrab
- Teman nakal menyebabkan kenakalan
- Solusi: putus asosiasi menyimpang, perkuat definisi taat hukum
- Pertanyaan: mengapa orang tidak melanggar?
- Kenakalan terjadi bila ikatan sosial lemah
- Anak yang ikatannya lemah memilih teman nakal
- Solusi: perkuat kelekatan, komitmen, keterlibatan, keyakinan
Sebutkan dan jelaskan empat unsur ikatan sosial menurut Hirschi.
Jawab dalam kepala atau tulis di kertas. Setelah itu baru buka jawabannya.
(1) Kelekatan: ikatan emosional dengan orang tua, guru, dan teman; makin peduli pada pendapat mereka, makin kecil kemungkinan melanggar. (2) Komitmen: investasi pada jalur konvensional seperti pendidikan dan karier, yang akan hilang bila melanggar. (3) Keterlibatan: kesibukan dalam kegiatan konvensional sehingga waktu untuk kenakalan berkurang. (4) Keyakinan: penerimaan terhadap nilai dan aturan masyarakat.
Teori pelabelan
Pada 1960-an, sekelompok sosiolog mengajukan pertanyaan yang sama sekali lain: bukan "mengapa orang melanggar", tetapi "mengapa orang tertentu dicap sebagai pelanggar, dan apa akibat cap itu?" Inilah teori pelabelan (labeling theory), bagian dari paradigma interaksionis.
Frank Tannenbaum menyebut prosesnya dramatisasi kejahatan: ketika anak yang melakukan kenakalan biasa ditangkap, diadili, dan diumumkan sebagai nakal, perhatian bergeser dari perbuatan ke pribadi anak, dan anak mulai melihat dirinya sebagaimana orang lain melihatnya. Edwin Lemert membedakan penyimpangan primer, yaitu pelanggaran awal yang dilakukan banyak orang dan belum memengaruhi identitas, dan penyimpangan sekunder, yaitu penyimpangan lanjutan sebagai respons terhadap reaksi masyarakat. Orang yang dicap pencuri sulit mendapat pekerjaan, lalu mencuri lagi, dan cap itu terbukti benar dengan sendirinya [15Buku teksSocial Pathology].
Howard Becker merumuskan pandangan yang paling tajam: kelompok sosial menciptakan penyimpangan dengan membuat aturan yang pelanggarannya disebut penyimpangan dan menerapkan aturan itu kepada orang tertentu. Penyimpang adalah orang yang kepadanya cap itu berhasil dilekatkan [16Buku teksOutsiders: Studies in the Sociology of Deviance]. Becker juga memperkenalkan konsep pengusaha moral (moral entrepreneur), yaitu orang atau kelompok yang giat memperjuangkan agar perilaku tertentu dilarang.
Teori pelabelan sangat berpengaruh terhadap peradilan anak. Prinsip bahwa identitas anak tidak boleh dipublikasikan, sidang anak tertutup untuk umum, petugas tidak memakai toga atau atribut kedinasan, dan diversi untuk menjauhkan anak dari proses formal, semuanya bertujuan mencegah stigmatisasi [17PeraturanUndang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak]. John Braithwaite kemudian membedakan rasa malu yang menstigma, yang mendorong pelaku ke subkultur menyimpang, dan rasa malu yang reintegratif, yang mengecam perbuatan tetapi tetap menerima pelaku kembali sebagai anggota masyarakat [18Buku teksCrime, Shame and Reintegration]. Gagasan ini menjadi salah satu dasar keadilan restoratif.
Di era media sosial, pelabelan bekerja jauh lebih cepat dan lebih luas. Video seorang pelajar yang memukul temannya dapat membuat nama, wajah, sekolah, bahkan alamatnya tersebar dalam hitungan jam, sering sebelum fakta lengkap diketahui. Cap "pelaku bullying" itu bisa bertahan bertahun-tahun di mesin pencari.
Kriminologi kritis dan teori konflik
Kriminologi kritis melanjutkan pertanyaan teori pelabelan ke tingkat struktur kekuasaan. Pertanyaannya: siapa yang membuat hukum, untuk kepentingan siapa, dan siapa yang paling sering terkena?
Teori konflik memandang masyarakat bukan sebagai kesepakatan nilai, melainkan arena persaingan kelompok dengan kepentingan berbeda. Kelompok yang berkuasa mampu menjadikan kepentingannya hukum. Richard Quinney merumuskan bahwa kejahatan adalah definisi perilaku yang diciptakan oleh pihak berwenang dalam masyarakat yang terorganisasi secara politik [19Buku teksThe Social Reality of Crime]. Ian Taylor, Paul Walton, dan Jock Young dalam The New Criminology (1973) menuntut teori yang menghubungkan kejahatan dengan struktur ekonomi politik, dan menyoroti bahwa kejahatan kelompok berkuasa jarang dikriminalisasi, sedangkan kejahatan jalanan kelompok miskin ditindak keras [20Buku teksThe New Criminology: For a Social Theory of Deviance].
Di Indonesia, Mulyana W. Kusumah mengembangkan perspektif kritis dengan menyoroti kejahatan struktural dan penyalahgunaan kekuasaan di masa pembangunan [21Buku teksKriminologi dan Masalah Kejahatan: Suatu Pengantar Ringkas]. Kriminologi kritis juga melahirkan arus-arus baru: kriminologi feminis yang menyoroti bias gender dalam hukum dan penegakan hukum, kriminologi hijau yang menyoroti kejahatan lingkungan, dan kriminologi budaya yang meneliti makna kejahatan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dipakai Harahap dan Sulhin untuk klitih.
Perkara Baiq Nuril Maknun[22Putusan pengadilanPutusan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019 atas nama Baiq Nuril Maknun]
- FaktaBaiq Nuril, pegawai honorer sebuah SMA di Mataram, merekam percakapan telepon atasannya yang bernuansa seksual sebagai bukti pelecehan yang ia alami. Rekaman itu kemudian tersebar oleh pihak lain. Atasannya melaporkan Baiq Nuril dengan tuduhan mendistribusikan informasi elektronik bermuatan melanggar kesusilaan menurut UU ITE.
- Masalah hukumApakah orang yang merekam bukti pelecehan terhadap dirinya dapat dipidana karena rekaman itu tersebar?
- Putusan dan alasannyaPengadilan negeri membebaskannya, tetapi Mahkamah Agung pada tingkat kasasi menyatakannya bersalah dan menjatuhkan pidana penjara enam bulan dan denda. Permohonan peninjauan kembali ditolak melalui putusan 4 Juli 2019. Setelah gelombang dukungan publik, Presiden memberikan amnesti dengan pertimbangan DPR pada tahun yang sama.
- PelajaranBagi kriminologi kritis dan teori pelabelan, perkara ini menunjukkan bagaimana hukum dapat menempatkan korban sebagai pelaku, sementara perbuatan atasan yang memicu peristiwa tidak diproses. Perkara ini ikut mendorong lahirnya UU TPKS 2022 dan perubahan pasal kesusilaan dalam UU ITE melalui UU 1/2024.
Memilih teori yang tepat
Banyak kriminolog kini memakai teori integratif yang memadukan beberapa teori sekaligus, misalnya ketegangan yang melemahkan ikatan sosial lalu mendorong remaja ke kelompok yang mengajarkan kenakalan. Pendekatan ini lebih dekat dengan kenyataan, walaupun lebih sulit diuji.
Tidak ada teori yang menjelaskan semua kejahatan. Setiap teori seperti lensa yang memperjelas sebagian gambar. Analisis yang baik memilih lensa yang paling cocok dengan pertanyaan dan data, dan sering memadukan beberapa teori.
| Teori | Pertanyaan pokok | Cocok untuk menganalisis |
|---|---|---|
| Disorganisasi sosial | Mengapa kejahatan menetap di tempat tertentu? | Tawuran antarkampung, kejahatan di permukiman padat |
| Anomie dan ketegangan | Tekanan apa yang mendorong orang melanggar? | Pencurian, penipuan, kekerasan sebagai pelampiasan |
| Asosiasi diferensial | Dari siapa orang belajar melanggar? | Judi daring, geng motor, kejahatan kerah putih |
| Subkultur | Nilai kelompok apa yang membenarkan pelanggaran? | Klitih, geng sekolah, suporter yang beringas |
| Kontrol sosial | Mengapa ikatan yang menahan orang melemah? | Kenakalan remaja pada umumnya |
| Pelabelan | Apa akibat cap yang diberikan masyarakat? | Anak yang berulang kali berurusan dengan polisi |
| Kritis dan konflik | Siapa yang diuntungkan oleh definisi kejahatan? | Kriminalisasi korban, kejahatan korporasi dan negara |
Tebak dulu benar atau keliru, baru buka jawabannya.
Latihan
- Mazhab Chicago (Shaw dan McKay) menunjukkan kenakalan melekat pada wilayah yang mengalami disorganisasi sosial; Sampson memperkenalkan efikasi kolektif.
- Merton menjelaskan kejahatan dari ketegangan antara tujuan budaya dan sarana sah dengan lima tipe adaptasi; Agnew memperluas sumber ketegangan dan menekankan emosi negatif.
- Sutherland: kejahatan dipelajari dalam kelompok akrab; Sykes dan Matza: pelaku memakai lima teknik netralisasi.
- Teori subkultur (Cohen, Cloward dan Ohlin) menjelaskan kenakalan berkelompok dan nilai tandingan, termasuk klitih.
- Hirschi: kenakalan terjadi bila ikatan sosial (kelekatan, komitmen, keterlibatan, keyakinan) melemah; Gottfredson dan Hirschi menekankan kontrol diri.
- Teori pelabelan (Tannenbaum, Lemert, Becker) menyoroti akibat cap sosial dan melandasi larangan publikasi identitas anak.
- Kriminologi kritis dan konflik mempertanyakan kekuasaan di balik definisi dan penegakan hukum pidana.
Kartu hafalan bab ini
Balik setiap kartu setelah kamu mencoba menjawab dalam kepala. Kartu yang kamu nilai “ingat” akan muncul lagi setelah jeda yang makin panjang, jadi yang sudah melekat tidak menghabiskan waktumu.
Sumber bab ini
Setiap angka di dalam kurung siku merujuk ke daftar ini. Peraturan dan putusan adalah sumber primer; buku teks dan jurnal dipakai untuk doktrin, penjelasan, dan perdebatan akademik.
- 1Clifford R. Shaw, Henry D. McKay (1942). Juvenile Delinquency and Urban Areas. University of Chicago Press, Chicago.Disorganisasi sosial dan zona transisi kota.
- 2Robert J. Sampson, Stephen W. Raudenbush, Felton Earls (1997). Neighborhoods and Violent Crime: A Multilevel Study of Collective Efficacy. Science 277(5328):918-924.Efikasi kolektif dan kekerasan di lingkungan kota.
- 3Émile Durkheim (1895). Les règles de la méthode sociologique. Félix Alcan, Paris.Kejahatan sebagai gejala normal dan berfungsi bagi masyarakat.
- 4Robert K. Merton (1938). Social Structure and Anomie. American Sociological Review 3(5):672-682.Anomie sebagai ketegangan tujuan dan sarana; lima tipe adaptasi.
- 5Muhammad Edo Fadely Andaly, Erna Dewi, Emilia Susanti (2025). Analisis Kriminologis terhadap Kejahatan Judi Online pada Remaja di Lampung Utara. Parlementer: Jurnal Studi Hukum dan Administrasi Publik.Judi daring remaja dijelaskan dengan asosiasi diferensial, ketegangan, dan kontrol sosial.
- 6Robert Agnew (1992). Foundation for a General Strain Theory of Crime and Delinquency. Criminology 30(1):47-87.Teori ketegangan umum: kegagalan tujuan, hilangnya hal bernilai, dan stimulus negatif.
- 7Edwin H. Sutherland (1947). Principles of Criminology (4th ed.). J.B. Lippincott, Philadelphia.Definisi ruang lingkup kriminologi dan sembilan proposisi asosiasi diferensial.
- 8Romli Atmasasmita (2010). Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Refika Aditama, Bandung.Teori asosiasi diferensial, anomie, kontrol sosial, pelabelan, dan paradigma studi kejahatan.
- 9Gresham M. Sykes, David Matza (1957). Techniques of Neutralization: A Theory of Delinquency. American Sociological Review 22(6):664-670.Lima teknik netralisasi.
- 10Albert K. Cohen (1955). Delinquent Boys: The Culture of the Gang. Free Press, Glencoe.Subkultur delinkuen dan frustrasi status anak kelas bawah.
- 11Richard A. Cloward, Lloyd E. Ohlin (1960). Delinquency and Opportunity: A Theory of Delinquent Gangs. Free Press, Glencoe.Struktur kesempatan tidak sah dan tiga tipe subkultur.
- 12Chisa Belinda Harahap, Iqrak Sulhin (2022). Pengendalian Kejahatan pada Sub-Kebudayaan Gang Klitih (dalam Paradigma Kriminologi Budaya). Deviance: Jurnal Kriminologi, Universitas Budi Luhur.Klitih sebagai subkultur kekerasan dan kebutuhan pengendalian non-penal berbasis komunitas.
- 13Travis Hirschi (1969). Causes of Delinquency. University of California Press, Berkeley.Teori ikatan sosial dan uji laporan diri pada remaja.
- 14Michael R. Gottfredson, Travis Hirschi (1990). A General Theory of Crime. Stanford University Press, Stanford.Rendahnya kontrol diri sebagai sebab umum kejahatan.
- 15Edwin M. Lemert (1951). Social Pathology. McGraw-Hill, New York.Penyimpangan primer dan sekunder.
- 16Howard S. Becker (1963). Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance. Free Press, New York.Penyimpangan sebagai hasil penerapan aturan dan sanksi oleh orang lain; moral entrepreneur.
- 17Republik Indonesia (2012). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Lembaran Negara RI Tahun 2012 Nomor 153, TLN Nomor 5332.Berlaku 30 Juli 2014; diversi, keadilan restoratif, pidana dan tindakan bagi anak.
- 18John Braithwaite (1989). Crime, Shame and Reintegration. Cambridge University Press, Cambridge.Rasa malu reintegratif versus stigmatisasi.
- 19Richard Quinney (1970). The Social Reality of Crime. Little, Brown, Boston.Kejahatan sebagai definisi yang dibuat pihak berkuasa.
- 20Ian Taylor, Paul Walton, Jock Young (1973). The New Criminology: For a Social Theory of Deviance. Routledge and Kegan Paul, London.Kriminologi kritis yang menghubungkan kejahatan dengan struktur ekonomi politik.
- 21Mulyana W. Kusumah (1984). Kriminologi dan Masalah Kejahatan: Suatu Pengantar Ringkas. Armico, Bandung.Kriminologi kritis dan kejahatan struktural di Indonesia.
- 22Mahkamah Agung RI (2019). Putusan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019 atas nama Baiq Nuril Maknun. Mahkamah Agung, 4 Juli 2019.Korban pelecehan yang dipidana berdasarkan UU ITE; contoh viktimisasi sekunder dan kriminalisasi korban.